ASPEK KELESTARIAN

 

Rencana Pengelolaan Hutan Lestari Terpadu (Integrated Sustainable Forest Management Plan)

PT. SHJ II merupakan salah satu mitra dan pemasok bahan baku industry pulp dan kertas dalam kelompok Asia Pulp & Paper (APP). Asia Pulp & Paper sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di Indonesia telah menyatakan komitmennya  untuk melaksanakan  Road Map menuju  kelestarian  atau Sustainability Roadmap Dengan demikian  APP Group beserta seluruh perusahaan  yang  tergabung  di   dalamnya     termasuk  PT SHJ II mempunyai  komitmen  untuk menghasilkan produk ramah  lingkungan dan berkelanjutan, dengan berpedoman pada peta jalan kelestarian(sustainability road map) yang telah ditetapkan.

Salah  satu bentuk komitmen PT. SHJ II adalah melakukan penilaian/identifikasi hutan yang memiliki  nilai konservasi  tinggi   (NKT), identifikasi  areal dengan simpanan carbon tinggi (Stok Karbon Tinggi/SKT), identifikasi konflik sosial,  dan studi Growth and yield. Selama studi mengenai HCV dan HCS  tersebut, PT. SHJ II tidak melakukan penebangan  hutan  alam  (moratorium  penebangan  hutan  alam  sejak  1   Februari  2013).  Keseluruhan proses tersebut ditambah studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) yang merupakan instrument pencegahan terjadinya kerusakan lingkungan yang dilaksanakan saat permohonan untuk mendapatkan IUPHHK-HT,   merupakan tahapan penting dalam implementasi pengelolaan hutan berkelanjutan yang   mengintegrasikan pertimbangan ekologi, sosial danekonomi dalam kegiatan operasionalnya.

Untuk mempermudah implemantasinya, perusahaan menyusun sebuah dokumen perencanaan pengelolan hutan lestari yang terintegrasi (Integrated Sustainable Forest Management Plan) yang memadukan berbagai hasil kajian dalam sebuah dokumen, sebagai acuan  dalam kegiatan pengelolaan hutan lestari.

 

KELOLA PRODUKSI

Kelola produksi berkomitmen menghasilkan dan menyediakan bahan baku kayu secara berkelanjutan dengan menerapkan prinsip-prinsip   pengelolaan hutan lestari.

Rencana kelola produksi berdasarkan Rencana Kerja tahunan (RKT) tahun 2018  PT. SHJ II periode bulan Januari – Desember secara ringkas disajikan pada tabel berikut.

No

Parameter

Rencana

1

Persiapan Lahan

3.939  Ha

2

Pengadaan Bibit :

-       Acacia sp, dan Eucaliptus sp

 

7.744.000 btg

3

Tanam (Ha)

4.840 Ha

4

Pemeliharaan

8.228  Ha

5

Panen  :

Luas (Ha)

Volume (M3)

 

3.527  Ha

255.337,51 m3

6

Survey Permanen Sample Plot (PSP)

 

Jumlah Plot

826

Luas (ha)

2.065

7

Survey Pre Harvesting Inventory (PHI)

 

Jumlah Plot

870

Luas (ha)

2.175

 

a. Perencanaan

Sebagai dasar kegiatan operasional, PT SHJ II telah menyusun Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Tanaman (RKUPHHK-HT). RKUPHHK ini menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) perusahaan. RKT selanjutnya menjadi dasar legal di dalam melaksanakan seluruh kegiatan operasional hutan tanaman.

 

b. Penataan Batas

Surat Keputusan Menteri Kehutanan NomorNo. 675/Menhut-II/1997 Tanggal 10 Oktober 1997Tentang Penetapan Batas Areal Kerja izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Tanaman PT SHJ II Seluas 70.300 ha.

 

c. Rencana Pembukaan Wilayah Hutan

Pembukaan wilayah hutan adalah kegiatan penyediaan prasarana jalan dan bangunan lainnya seperti pembangunan base camp serta pembuatan Tempat Penimbunan Kayu (TPK) dan Tempat Penumpukan Kayu Sementara (TPn). PWH adalah untuk merencanakan pembuatan jaringan jalan dan prasarana lainnya yang berkaitan dengan kegiatan pengusahaan hutan, sedangkan tujuannya adalah untuk menyiapkan jaringan angkutan dan prasarana lainnya untuk kelancaran pembangunan dan pembinaan hutan tanaman serta angkutan hasil hutan

Pembuatan jaringan jalan dimaksudkan untuk meningkatkan aksesibilitas, dengan tujuan untuk mempermudah terlaksananya segala kegiatan mulai dari penyiapan lahan (land clearing), penanaman, pemeliharaan, perlindungan dan pemanenan. Jalan yang dibuat meliputi jalan utama dan jalan cabang. Pembuatan jaringan jalan ini harus didukung data lapangan lengkap yang meliputi data erodibilitas tanah dan topogrfi lahan.  Sedangkan rancangan pola jaringan jalan  didesain sedemikian rupa sehingga jaringan jalan tersebut sekaligus dapat dimanfaatkan selain sebagai jalur transportasi juga sebagai batas blok areal kerja.  Pembuatan jalan sangat dipengaruhi oleh fungsi jalan, intensitas pemakaian jalan, jenis alat angkut dan beban muatan. Pada tahun awal pembangunan hutan tanaman, fungsi jalan lebih ditekankan pada kegiatan pembinaan hutan, meliputi kegiatan pengangkutan tenaga kerja, pengangkutan bibit, pupuk, peralatan dan kegiatan pengawasan dan pengamanan hutan.

Pembangunan jalan angkutan setiap tahunnya direncanakan dengan lebar jalan utama 12 m dan jalan cabang 8 m. Perusahaan berencana melakukan pengukuran dan pemetaan topografi sebagai langkah pendahuluan untuk perencanaan pembuatan trase/jaringan jalan serta penentuan lokasi-lokasi dari base camp, persemaian dan lain-lain.

 

d. Pembibitan

Pengadaan bibit dilakukan melalui di persemaian induk (permanent nursery) dan juga bibit diperoleh dari persemaian induk. Sumber benih dari masing-masing jenis bibit yang diproduksi yaitu :

Tanaman Pokok (Acacia crassicarpa). Pada awalnya sumber benih tanaman pokok didatangkan dari luar negeri yaitu Australia dan Papua Nugini. Namun, pada saat ini seluruh kebutuhan benih diperoleh dari R&D. Sebagian besar benih berupa biji dan sebagian lainnya berupa stek pucuk (cutting implant). Pada saat ini sedang diteliti pengadaan bibit dengan sistem kultur jaringan.

Untuk memenuhi kebutuhan bibit tanaman, PT SHJ II telah membangun 1 (satu ) unit persemaian yang digunakan sebagai pusat persemaian pada waktu unit manajemen tersebut belum bergabung ke sinarmas forestry. Akan tetapi setelah PT. SHJ II bergabung dengan Sinarmas forestry maka untuk memenuhi permintaan bibit tanaman di supply oleh PT. Surya Hutani Jaya.  PT. Surya Hutani Jaya mempunyai pusat persemaian (nursery) yaitu Nursery 32 dengan kapasitas produksi + 36 juta bibit per tahun yang mampu memenuhi permintaan bibit baik untuk PT. Surya Hutani Jaya sendiri maupun untuk PT. Sumalindo Hutani Jaya II. Total Rencana pengadaan bibit pada tahun 2018  Eucalyptus pellita, dan Acacia mangium, dan Acacia crasicarpa adalah sebanyak 7.744.000 batang.

 

e. Penetapan Sistem Silvikultur

Kegiatan silvikultur dalalm pembangunan hutan tanaman merupakan suatu teknik/proses dimulai dari kegiatan penyiapan lahan, persemaian, penanaman, dan pemeliharaan, serta penebangan. Perusahaan didalam pembangunan hutannya memilih sistem silvikultur THPB (Tebang Habis Permudaan Buatan) dengan berbagai pertimbangan sebagai berikut :

  • Tujuan pembangunan hutan tanaman, yaitu untuk menghasilkan kayu sebagai bahan baku industri pulp PT. Indah Kiat Pulp and Paper. Berdasarkan pertimbangan ini maka sistem silvikulturnya diarahkan untuk menghasilkan kayu yang memenuhi persyaratan industri pulp.
  • Kondisi pada areal hutan tanaman dilapangan.
  • Ketersediaan teknologi pendukung.

Pengelolaan dan penanganan lahan di areal gambut mempunyai tantangantersendiri, perlu dilakukan perencanaan yang sangat matang dengan didukung oleh teknologi yang memadai. Pengaturan tinggi muka air (water level)  merupakan faktor penting dalam keberhasilan pertumbuhan tanaman.

 

f. Penanaman

Kegiatan penanaman di areal hutan tanaman PT SHJ II dilakukan setelah kegiatan penyiapan lahan (penebangan) selesai dan dinilai layak untuk diteruskan dengan kegiatan penanaman.  Penanaman dimungkinkan dilakukan sepanjang tahun karena kondisi curah hujan yang sesuai.  Untuk melihat keberhasilan tanaman dilakukan penilaian tanaman oleh Plantation Assesment Team (PAT) yang menilai standar stocking, spacing dan weed free. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 3, 6 dan 12 bulan.

Pada daerah yang datar, penanaman mengikuti arah Utara – Selatan dan Timur – Barat.  Pada daerah yang berlereng penanaman didasarkan pada arah kelerengan dan drainase.  Jarak yang pendek memotong lereng atau drainase sedangkan jarak yang panjang mengikuti atau searah lereng atau drainase.

Tabel Rencana dan Realisasi Penanaman s/d Tahun 2018

Tahun RKT

Penanaman

Persentase

Target (Ha)

Realisasi (Ha)

2017 - 2018

4.840

1.225

25.3

 

g. Pemeliharaan Tanaman

Kegiatan pemeliharaan tanaman mengacu pada Standard Operating Procedure meliputi kegiatan pemupukan, penyulaman,dan penyiangan (weeding). Jadwal pelaksanaan pemeliharaan tanaman (luas dan waktunya) mengikuti jadwal penanaman dan jadwal teknis silvikultur HTI.

 

KELOLA LINGKUNGAN

Pengelolaan lingkungan PT SHJ II merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan Keputusan Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam / Ketua Komisi Pusat AMDAL Departemen Kehutanan No. 114/Kpts/DJ-VI/1993 tanggal 26 Oktober 1993 tentang Pedoman Teknis Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPUPHHK Tanaman).

Dokumen AMDAL telah disetujui berdasar Surat Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam / Ketua Komisi Pusat AMDAL Departemen Kehutanan No. 249/DJ-VI/AMDAL / 1996, tanggal 04 November 1996. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) disusun sebagai tindak lanjut dari Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) IUPHHK Tanaman PT SHJ II.

1. Pengelolaan Kawasan Lindung

Kawasan lindung yang terdapat di areal PT. SHJ II terdiri dari Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah, Sempadan Sungai, Daerah Perlindungan Satwa Liar, Sempadan Mata Air, dan Areal Kelerengan.

2. Pengelolaan dan Pemantauan Flora dan Fauna

Pada areal kawasan lindung terdapat sejumlah jenis vegetasi yang tersebar di sekitar areal berhutan Diatara vegetasi-vegetasi tersebut teridentifikasi jenis tumbuhan yang dilindungi berdasarkan CITES, IUCN, serta peraturan lokal yang mengaturnya.

3. Pengelolaan dan Pemantauan HCV

Penilaian HCVF di areal PT. SHJ II sudah dilakukan pada tahun 2014 oleh APCS. Dari hasil identifikasi di lapangan dapat diketahui nilai-nilai konservasi yang terdapat atau tidak ada padakawasan-kawasan hutan yang ada di dalam UM, yaitu:

Tabel Hasil Identifikasi HCV PT SHJ II

CVF

Komponen

Ada

Tidak

Ada

CV 1.  Kawasan yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang penting

1.1.        Kawasan Lindung

 

1.2.        Spesies Dilindungi dan hampir punah

 

1.3.        Kawasan habitat spesies terancam dan dilindungi

 

1.4.        Konsentrasi Temporal Penting

 

CV 2.  Kawasan bentang alam yang penting bagi dinamika ekologi secara alami

2.1.        Bentangan hutan

 

2.2.        Kawasan alam yang berisi dua atau lebih ekosistem

 

2.3.        Kawasan yang berisi populasi yang mampu bertahan hidup

 

CV 3.  Kawasan yang mempunyai ekosistem langka atau terancam punah

Kawasan hutan yang merupakan tipe utama ekosistem yang representatif

 

CV 4.  Kawasan yang menyediakan jasa-jasa lingkungan alami

4.1.        kawasan untuk penyedia air dan pengendalian banjir bagi Maasyarakat Hilir

 

4.2.        Kawasan yang penting untuk pencegah erosi dan sedimentasi

 

4.3.        Kawasan hutan yang berfungsi sebagai sekat alam untuk mencegah kebakaran

 

 

CV 5.  Kawasan hutan yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat lokal (misalnya ; subsisten, kesehatan)

 

 

 

 

 

CV 6.  Kawasan hutan yang sangat penting untuk identitas budaya tradisi masyarakat lokal (kawasan budaya, ekologi, ekonomi dan agama bagi masyarakat  lokal)

 

 

 

4. Fire Management

Areal konsesi PT. SHJ II keseluruhan berada pada zona kering (tidak ada Gambut). Potensi bahaya kebakaran hutan di areal kerja tergolong cukup besar. Hal ini disebabkan oleh faktor iklim, kondisi lahan, dan faktor sosial. Dari faktor iklim dan kondisi lahan, walaupun secara makro areal kerja beriklim sangat basah, namun secara mikro (harian) memungkinkan kondisi kering yang beturut-turut selama beberapa hari. Hal ini cukup untuk membuat serasah bagian atas menjadi kering dan mudah terbakar.

Dari segi sosial, masyarakat yang sebagian diantaranya masih menerapkan sistem pembakaran untuk membuka lahan pada musim kemarau juga membawa potensi kebakaran. Potensi ini menjadi lebih besar lagi karena terdapat bagian areal hutan tanaman yang berbatasan langsung dengan lahan masyarakat. Oleh sebab itu, PT. SHJ II melakukan pendekatan-pendekatan secara sosial maupun secara teknis dilapangan.

SHJ II memiliki Komitmen yang sangat serius terkait Kebakaran Hutan dan lahan, baik itu kebakaran yang terjadi didalam kawasan konsesi atau pun diluar kawasan konsesi yang diimplementasikan dalam sebuah Kebijakan Pencegahan KARHUTLA sebagai berikut:

  1. Mematuhi semua peraturan perundangan yang terkait  pencegahan kebakaran lahan dan hutan.
  2. Konsisten terhadap pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) dalam semua tahapan kegiatan pembangunan hutan tanaman.
  3. Melakukan perlindungan areal konsesi perusahaan dari bahaya kebakaran untuk memastikan   keberlanjutan usaha dalam jangka panjang dan kelestarian sumber daya alam.
  1. Secara terus menerus meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan peralatan untuk pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan dan hutan.Secara aktif melibatkan semua karyawan, mitra kerja serta masyarakat di sekitar konsesi perusahaan untuk terus menerus melakukan pencegahan kebakaran lahan dan

    Selain dari komitmen, untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan disekitar wilayah konsesinya, ASIA PULP & PAPER (APP) dan Sinarmas Forestry merancang sebuah sistem terintegrasi yang disebut dengan Integreted Fire Management (IFM). Terdapat 4 pilar utama dalam IFM ini, yaitu:

1. Pencegahan

A. Program DMPA : Landasan utamanya adalah dengan memanfaatkan bidang agroforestri, masyarakat diarahkan dan dibina untuk berdaya dan sejahtera secara sosial-ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya (alam dan manusia) yang sesuai dengan potensi dan karakteristik lokal.

B. Tata Kelola Air : Untuk mengurangi resiko kebakaran dilahan gambut APP dan SMF Group bekerjasama dalam memperbaiki tata kelola lahan gambut dengan cara menaikkan ketinggian air dikanal perimeter konsesi.

C. Insentif untuk Masyarakat Peduli Api (MPA) : Mengikut sertakan masyarakat sekitar konsesi HTI untuk melakukan patroli pencegahan kebakaran, selain sejumlah uang, masyarakat juga diberikan insentif berupa peralatan dan pelatihan dalam pemadaman kebakaran.

2. Persiapan

  • Incident Command System (ICS) : Merupakan perangkat/sistem yang mengatur garis komando, perencanaan, operasi, logistik, dan administrasi dalam sebuah situasi darurat.
  • Situation Room Center (SRC) : Ruang kontrol yang melakukan deteksi dini kebakaran secara real time 24 jam non-stop diwilayah konsesi SMF Group melalui pengolahan data dari citra satelit yang diverifikasi oleh petugas lapangan.
  • Pemetaan Jalur Patroli : Intensitas patroli disesuaikan dengan informasi tentang potensi kebakaran dari situation room dan panduan FDRS dari gabungan data cuaca, angin, dan kelembaban udara.
  • Kesiagaan RPK : Personel RPK yang telah tersertifikasi Manggala Agni senantiasa bersiaga di pos pantau, tim RPK juga dilengkapi dengan mobil patroli, mobil pemadam kebakaran, dan pompa air.

3. Deteksi Dini

  • Deteksi Wilayah Kebakaran : Deteksi dilakukan oleh tiap distrik diwilayah konsesi berdasarkan informasi yang didistribusikan oleh Situation Room. Hal ini untuk memastikan apakah hotspot tersebut adalah titi apai atau bukan, maka petugas mengecek langsung kelapangan.
  • Citra Thermal : Alat ini digunakan untuk mendeteksi titik titik api dilahan gambut. Bekerja dengan menangkap perbedaan suhu ekstrim dipermukan tanah. Begitu panas terdeteksi, maka sistem akan mengirimkan data real yang kemudian disatukan dalam petak konsesi sehingga lokasi titik apai akan langsung terlihat disistem.
  • Pemantauan dari Ketinggian : Dilakukan melalui Menara Api yang tersebar di 80 titik dengan ketinggian kurang lebih 30 meter.

4. Respon Cepat

  • Komando dan Kontrol : Manajemen terpadu dalam menghadapi situasi darurat, dari mulai pihak Situation Room, Logistik peralatan, petugas RPK dilapangan, semua bergerak mengikuti garis komando yang telah ditetapkan.
  • Regu Pemadam Kebakaran (RPK) : Tim RPK secara intensif akan melakukan upaya pemadaman secara bergantian tanpa mengenal libur. Jika lokasi sulit dijangkau melalui jalan darat, akan dikirimkan tim pemadam kebakaran menggunakan helikopter.

Helikopter Water-boombing : Untuk menjangkau wilayah yang lebih sulit secara geografis, disediakan helikopter biasa dan helikopter besar jenis Super Puma untuk melakukan Water-boombing diareal kebakaran.

 

D. ASPEK SOSIAL

Pembangunan Sosial Masyarakat

Kegiatan pengelolaan hutan yang lestari hanya akan terwujud jika didukung tiga pilar kelestarian yaitu : kelestarian produksi, kelestarian lingkungan atau ekologi, dan kelestarian sosial.

Terkait dengan kelestarian sosial perusahaan memiliki kebijakan pembangunan sosial masyarakat yang tertuang dalam program kelola sosial, berupa project plan, CSR program pemberdayaan masyarakat desa sekitar hutan melalui beberapa Kelompok Tani dan atau Koperasi Binaan yangdiarahkan untuk kegiatan langsung dalam kegiatan perusahaan. Arah dari program tersebut adalah terjadinya minimasi konflik dengan masyarakat baik konflik pemanfaatan hasil hutan maupun konflik kawasan hutan, serta mendorong terciptanya kondisi masyarakat yang mandiri dalam membangun wilayah desanya.  Dalam pengelolaan konflik, perusahaan mempunyai dokumen pemetaan konflik, yang representative, dimana selalu dilakukan monitoring dan evaluasi secara rutin melalui KPI Socials Milestone sebagai basic untuk target penyelesaian setiap tahun berjalan.

Berdasarkan Laporan Studi Diagnostik dan Social Impact Assessment PT. SHJ II Tahun 2014 dinyatakan bahwa untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat desa binaan ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh perusahaan, diantaranya:

  1. Peningkatan mutu sember daya manusia meliputi subsidi pendidikan, beasiswa, honor guru, ketrampilan, perlengkapan belajar mengajar.
  2. Peningkatan perekonomian dengan pengembangan sentra produksi pertanian, perikanan, peternakan dan wiraswasta di desa-desa sekitar konsesi sesuai potensi desa.
  3. Pembinaan sosial budaya meliputi pelayanan kesehatan, kegiatan sosial masyarakat, pemeliharaan lingkungan (penyiraman jalan lingkungan desa) dan peralatan olah raga.
  4. Kegiatan keagamaan meliputi peralatan ibadah, ceramah agama/safari dakwah di desa-desa sekitar.
  5. Pembangunan infrastruktur meliputi perbaikan jalan, partisipasi pembangunan gedung sekolah dan tempat ibadah.

Kegiatan pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk menciptakan hubungan yang harmonis dan mendatangkan konstribusi positif dari masyarakat pedesaan terhadap kelangsungan pembangunan HTI untuk jangka waktu panjang secara keseluruhan. Dilain pihak, pendapatan dan kesejahteraan masyarakat juga dapat turut terangkat secara kuantitas dengan terjadinya perubahan pola pertanian dan usaha tani masyarakat yang lebih maju lagi dari keadaan sebelumnya. Keberhasilan kegiatan pemberdayaan masyarakat tergantung dari tingkat kesungguhan masyarakat dalam menerima dan melaksanakan setiap aspek kegiatan di lapangan. Berikut disajikan rencana kelola aspek sosial untuk tahun 2018, berdasarkan masukan-masukan dari masyarakat dan hasil kajian SIA PT. SHJ II

NO

JENIS KEGIATAN

RENCANA 2018

KETERANGAN

SATUAN

FISIK

 

 

 

 

   

I

Aspek ketersediaan mekanisme dan implementasi pendistribusian insentif yang efektif serta pembagian biaya dan manfaat yang adil antara para pihak:

 

 

 

-Honor Guru

12

kali

Sekolah sekitar operasional perusahaan

-Prasarana & Subsidi Pendidikan

8

kali

Sekolah sekitar operasional perusahaan

II

Aspek ketersdiaan mekanisme dan implementasi peningkatan ekonomi masyarakat setempat

 

 

 

-Fee Kayu Program Kemitraan

 

 

 

III

Aspek ketersediaan mekanisme dan implementasi peningkatan ekonomi masyarakat setempat

 

 

 

-Usaha Pertanian

-

Paket

 

-Usaha Perikanan

-

Paket

 

-Usaha Peternakan

-

Paket

 

-Usaha Wiraswasta

-

Paket

 

-Usaha Keterampilan

-

Paket

 

IV

Aspek ketersediaan mekanisme dan implementasi solusi konflik sosial :

 

 

 

1. Pembinaan Sosial Budaya

 

 

 

-Sosial Kemasyarakatan

4

kali

Desa sekitar operasional perusahaan

-Kepemudaan, Olahraga

8

kali

Desa sekitar operasional perusahaan

2. Kegiatan Keagamaan

 

 

 

-Hari Raya Agama

4

Kali

Desa sekitar operasional perusahaan

-Sarana/ Peralatan Ibadah

2

kali

Desa sekitar operasional perusahaan

-Ceramah Agama & MTQ

2

Kali

 

-Sapi Qurban

-

 

 

BBM Penerangan Masjid

 

 

 

3. Infrastruktur

 

 

 

-Perbaikan Jalan

6

Kali

Desa sekitar operasional perusahaan

-Sarana dan Prasarana Desa/Masyarakat

7

Kali

Desa sekitar operasional perusahaan